Bioskop Harewos, Bioskop untuk Semua Mata

Untuk mengisi waktu di sela-sela skripsian, aku iseng-iseng ikut jadi relawan sebuah acara yang kudapatkan infonya dari salah satu grup Line. Sudah lama juga aku gak terlibat dalam acara atau kepanitiaan.

Acara yang bertitel 1000 Wajah Bandung itu diselenggarakan oleh Bandung Film Council (sebuah komunitas film di Bandung) dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret. Karena tanggal tersebut jatuh pada hari Senin, maka acaranya menjadi tanggal 29 Maret.

Kegiatan dalam acara itu adalah pemutaran 3 film keluarga dari mulai jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Film yang diputar adalah Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, dan Kabayan. Selain itu, ada juga diskusi film dan pertunjukan musik. Acara tersebut dilaksanakan di Taman Film Bandung.

Aku mengikuti rekrutmen relawan visual reader. Visual reader adalah pendamping para penyandang tunanetra untuk memvisualisasikan apa yang tidak bisa mereka lihat. Visual reader dalam acara itu dibutuhkan untuk kegiatan Bioskop Harewos, yaitu acara menonton bersama para tunanetra. Film yang ditonton adalah Laskar Pelangi.

Pada saat itu yang dibutuhkan hanya 50 orang. Aku masuk di kategori waiting list, yaitu kelompok di luar 50 orang yang telah diprioritaskan tetapi masih bisa menjadi visual reader ketika ada orang di kelompok prioritas yang tidak bisa mengikuti acara.

Tiga hari sebelum acara, kami melakukan briefing sekaligus fiksasi visual reader. Pada saat itu banyak dari kelompok prioritas yang tidak hadir, sehingga yang hadir pada saat itu hanya ada 37 orang, termasuk saya dan beberapa orang dari kelompok waiting list yang datang pada saat itu.

Pada hari H, kita sudah stand by sejak pukul 11.00 sesuai instruksi panitia. Bioskop Harewos sendiri pada awalnya akan berlangsung pada pukul 15.30, tetapi terjadi perubahan menjadi pukul 14.00. Para tunanetra dari Panti Sosial Bina Netra (PSBN) tiba di tempat sekitar pukul 13.30. Kemudian masing-masing visual reader dipasangkan dengan para tunanetra nya.

Hujan besar sempat mengguyur taman yang beratap jalan layang Pasupati ini. Untunglah itu tidak berlangsung lama, sehingga acara tetap berlangsung sampai akhir.

image

(Dokumentasi Bandung Film Council)

Para visual reader menemani para tunanetra menyimak dan menceritakan setiap adegan dalam film yang tidak bisa mereka lihat. Cukup melelahkan juga bercerita sepanjang film berlangsung. Sesekali aku minum untuk membasahi kerongkongan yang kering, padahal aku bukan orang yang sering minum.

Dalam acara itu hadir pula Walikota Kota Bandung, Kang Ridwan Kamil dan yang empunya Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Selain itu, ada juga Kimung Burgerkill dan dua orang dari dunia perfilman tapi aku lupa namanya. Rupanya mereka inilah yang akan mengisi talkshow setelah film selesai. Mereka tiba di beberapa menit terakhir film.

image

(Dokumentasi Ridwan Kamil)

Dalam talkshow singkat tersebut, mereka berbicara tentang potensi film dari Bandung. Kang Kimung yang sekarang mengajar di SMP bercerita tentang anak-anak didiknya yang sudah kreatif membuat video yang menjadi film pendek melalui gadget yang mereka miliki. Pak Wali sebagai orang nomor satu di Bandung menyatakan dukungan penuh terhadap segala aktivitas perfilman di kota ini. Om Hirata merangkum apa saja yang dibutuhkan agar potensi perfilman kota ini dapat digali.

Acara talkshow ini berakhir menjelang magrib. Para tunanetra dijemput untuk kembali ke yayasan. Akhirnya, tugasku selesai juga. Meskipun cukup melelahkan, tetapi sangat menyenangkan mendapat pengalaman baru menjadi seorang visual reader. Ba’da magrib ada pertunjukan musik D’Cinnamons yang dilanjutkan dengan pemutaran film Kabayan. Sebenarnya aku masih ingin nonton, tapi aku tau diri Jatinangor itu gak sedekat Dago-DU. Untungnya ada orang yang mau nganter jauh-jauh ke Jatinangor. Makasih ya 🙂

Anggi, Pemuda Sejuta Mimpi

image

Dalam acara tersebut aku menjadi pendamping Anggi, pemuda remaja 20 taun yang sejak usia 2 tahun sudah tidak bisa melihat karena sakit. Anggi ini berasal dari Bekasi, dan kita tinggal di yayasan PSBN Lembang.

Senang rasanya kenal dengannya. Dengan keterbatasannya itu dia tetap riang, aktif bertanya dan senang bercerita.

Saat ini Anggi tidak sekolah, tetapi dia ikut keterampilan memijat di yayasannya. Sebelumnya dia sempat ikut keterampilan musik, sehingga dia bisa menguasai beberapa alat musik seperti gitar, keyboard dan drum. Bahkan bersama band nya di yayasan, dia sempat diundang untuk tampil di beberapa acara. Pada saat ada perrunjukan band akustik sebelum pemutaran film  dia juga tampak menikmati musiknya dan sesekali bertanya, “Kak, itu bass nya dari kayu atau besi?”. Aku yang gak paham masalah musik, justru balik nanya, “Emang beda ya antara bass yang terbuat dari besi dengan yang dari kayu?”. Jadilah dia yang menerangkan lebih jelas kepadaku.

Sebelumnya dia sempat belajar di SLB (Sekolah Luar Biasa), tetapi dia belum pernah belajar di sekolah umum. Padahal kemampuan belajar dia sama dengan anak-anak normal lainnya, akan tetapi herannya para penyandang tunanetra ini dimasukkan ke SLB. Ketika aku bertanya keinginan untuk belajar di sekolah umum, dia mengaku ingin sekali tetapi sudah kepentok umur.

Sepanjang film, aku menjelaskan semua yang ada di film tersebut. Ternyata dia sempat menyimak film ini sedikit di salah satu stasiun televisi. Anggi banyak bertanya dan berkomentar. Misalnya, pada saat Bu Mus menolak tawaran menjadi guru di SD PN Timah karena ingin mengajar di SD Muhammadiyah, dia berkomentar, “Wah, bagus ini prinsipnya.”, atau pada saat aku ceritakan adegan anak-anak SD Muhammadiyah yang sedang sholat berjamaah, dia ikut bercerita, “Jadi inget waktu dulu belajar sholat berjamaah di SLB”.
Ketika diskusi film, dia mengatakan keinginannya untuk bisa membuat film juga, tetapi dia gak punya alat-alatnya. Aku cuma bilang padanya, “Alat mah nanti saja, yang penting kamu ciptakan dulu ide besarnya, Nggi.”

Anggi nampak sangat antusias dengan acara ini. Berkali-kali dia bilang acaranya bagus. Pada saat perjalanan ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar bersama temannya yang lain, dia mengajak temannya untuk mengaransemen lagu Laskar Pelangi pada saat tampil 17 Agustus nanti.

Begitulah, dari pertemuan singkat itu aku belajar semangat hidup dalam keterbatasan. Mereka tetap berwarna meskipun mereka bahkan tidak tau warna merah itu yang bagaimana. Kita, yang tau banyak warna, tau indahnya pelangi, seharusnya bisa lebih ceria menikmati hidup yang kadang hanya berwarna abu bahkan hitam.

Iklan

Did You Feel The Same?

image

http://kaskus.co.id

“Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku hingga membuat kau percaya..” (Selamanya Cinta, D’Cinnamons)

Salah satu soundtrack film Cintapuccino itu sempat menjadi soundtrack hati gue juga,haha.. Di masa putih abu itu, aku mengalami juga apa yang dialami Rahmi dalam film itu, memendam rasa.

Orang itu seangkatan denganku. Sebenarnya aku tau dia karena dia satu SMP dan kemudian satu SMA juga, tapi aku kurang begitu kenal karena selalu beda kelas, Padahal sebenarnya pada saat kelas X SMA, kita satu OSIS, tapi aku tidak banyak berinteraksi dengannya.

Sampai akhirnya, ketika menjelang naik ke kelas XI, OSIS disibukkan dengan persiapan MOS  (Masa Orientasi Siswa). Waktu itu aku yang masuk kepanitiaan, mendapat tugas menjadi Pendamping Kelas (PK). Jadi, PK itu yang akan mendampingi setiap kelas selama MOS berlangsung. Biasanya PK itu terdiri dari sepasang panitia, lelaki dan perempuan.

Pada saat pembagian nama PK, namaku dipasangkan dengan orang yang aku ceritakan di awal itu. Tapi, tiba-tiba ada salah satu anak OSIS lain yang protes. Ternyata dia adalah teman cewek yang deket sama cowok itu. Intinya, sebelumnya mereka sudah minta untuk dipasangkan dengan orang-orang tertentu. Aku sih gapapa mau dipasangkan dengan siapapun. Tapi entahlah, keputusan itu tidak berubah. Aku tetap dipasangkan dengan cowok itu.

Aku mulai kenal dengannya karena kita menjadi PK bersama-sama. Setelah MOS selesai, kita menjadi lebih akrab di OSIS, sering juga komunikasi lewat SMS meskipun itu hanya sebatas bercanda.

Ada beberapa hal yang akhirnya membuatku kagum kepadanya. Meskipun umurnya di bawahku, tapi terkadang dia jauh lebih dewasa dariku. Sempat juga aku bertanya, “Kamu kan anak motor, kenapa gak ikut merokok?”. Lalu dia bilang, “Tapi kan gak harus ikut-ikutan”. Barulah aku tau, dia adalah orang yang fleksibel tapi berprinsip, hal yang aku suka dari seorang lelaki, bisa masuk ke lingkungan mana saja tapi bisa memegang prinsip.

Begitulah akhirnya, ada rasa yang entah apa namanya. Terkadang ada hal-hal yang membuat aku geer. Tapi kemudian segera aku tepis karena ternyata dia juga dekat dengan cewek-cewek lain. Selain dengan yang diceritakan di atas, ada juga nama-nama lain yang dekat dengannya.

Ada yang aku ingat. Hmm,waktu itu sepulang sekolah, sedang dalam perjalanan ke rumah, dia mengirim SMS padaku, “mieh coba liat FS abi gera”. Waktu itu jamannya Friendster. Lalu aku buka, dan baca status dia. Isinya sepenggal lagu Andra and The Backbones (kebetulan aku juga suka band itu), “bersamamu kurasakan yang tak pernah kurasakan sebelumnya”. Sampai detik ini aku gak tau itu maksudnya apa.

Rasanya aku tak ingin berlama-lama dengan perasaan ini. Semakin banyak juga cewek-cewek yang dekat dengannya. Sampai akhirnya, masuk semester kelas XI, aku dekat dengan kakak kelas yang akhirnya jadi pacarku. Yang lucu, pacarku itu sering cemburu karena sebelum pacaran, aku sering curhat tentang dia. Makanya, ketika pacaran, dia pasti kesel kalo aku ikut kegiatan OSIS karena di OSIS itu ada dia.

Selama aku punya pacar, kita masih berhubungan baik karena OSIS. Sampai akhirnya aku putus menjelang akhir semester pertama kelas XII, dan kita sudah pensiun dari OSIS, dan dia dekat dengan adik kelas lain, kita masih berhubungan baik.

Aku cerita kepada 2 orang sahabatku tentang hal ini. Mereka menyarankan untuk mengatakan perasaanku kepadanya. Aku bilang nanti saja pas keluar SMA biar setelah itu kita gak ketemu lagi.

Sesuai rencana awalku, setelah selesai acara perpisahan, aku mengirimkan SMS yang isinya mengatakan bahwa aku pernah menyimpan rasa kepadanya, dan aku hanya sekedar ingin ngasih tau, gak lebih. Lalu dia bertanya, “sekarang gimana?”. Aku bilang sekarang hanya teman saja.

Di saat aku membebaskan hatiku, eh tuh bocah muncul lagi. Waktu itu kita sudah bukan siswa lagi, gak ada aktivitas di sekolah, tapi terkadang kita ke sekolah buat ngurus berkas-berkas studi. Nah, tuh bocah terkadang sok sok baik jemput ke sekolah, nganter nyetak foto, sampe ngajak nonton. Aaaaarrrgghh..
                           ***
Akhirnya jadi anak kuliahan. Aku dan dia beda kampus. Aku di Jatinangor dan dia di Dayeuh Kolot. Meskipun sudah berpisah, tapi nyatanya kita masih sering SMSan, sesekali bertemu di acara perkumpulan mahasiswa asal daerahku. Yang dibicarakan kebanyakan tentang aktivitas kampus.

Sampai akhirnya dia tidak lagi menghubungiku. Ketika aku membuka Facebook, tak sengaja entah sengaja, aku melihat status hubungannya sudah berpacaran dengan seorang cewek. Setelah itu aku juga semakin sibuk dengan aktivitasku. Perasaan ini sudah memudar.

Apalagi setelah aku memiliki pacar lagi. Perasaan itu sudah entah kemana. Meskipun sesekali kita berinteraksi di media sosial.

Sampai saat ini aku sendiri lagi sedangkan dia masih berdua dengan yang lain, kita masih berhubungan baik. Bahkan tulisan ini muncul setelah dia memberi komentar ‘ciyee ciyee’ setelah membaca tulisan Dear My First.

Nih, aku jadiin kamu objek tulisan juga. Jangan geer yaa,haha

Sebagian dari kita mungkin pernah memendam perasaan. Terkadang kita sengaja tidak mengungkapkannya bukan karena gak punya nyali, tetapi karena memang hanya sekedar ingin menikmati rasanya saja. Sampai detik ini, aku belum berani menanyakan ini kepada dia, “Did you feel the same with me?”, sehingga aku tak pernah punya jawabannya. Tapi ya sudahlah, itu sudah berlalu lama sekali.

Satu dari Sekian Vitamin Skripsiku

Pagi ini seseorang mengirim pesan BBM kepadaku. Isinya link video d youtube. Krn penasaran, langsung saja aku buka link nya.

Sempet gak ngeh itu apa buat siapa, sampai akhirnya aku tersadar dalam waktu sepersekian detik, bahwa itu semacam vitamin buat aku yang lagi stres skripsi, yang sering ngeluh skripsi setiap kali aku chatting dengannya.

Thanks to make me smile, Maul 😀

Ganjarresik Squad

image

(KKNM Unpad 2013 Desa Ganjarresik, Kec. Wado, Kab. Sumedang)

Ini adalah keluargaku yg sebulan tinggal serumah terhitung sejak tanggal 14 Januari sampai 15 Februari 2013, udah kaya ayah ibu dgn 19 anak,hehe

Atas (dari sisi kanan):
– Hariaman ‘Harya’ Prasetyo (FMIPA-Kimia 2010)
– Adrian ‘Cups’ Noor Prayudha (FEB-Manajemen 2009)
– Kristal ‘Ayank’ Implengan T (FEB-Manajemen 2009)
– Ashita ‘Shita’ Widya Amelinda (Fikom-Humas 2010)
– Astri ‘Achi’ Riksahati (Fikom-Humas 2010)
– Pak Juju
– Ibu Juju
– Aku, Rika Rakanita (Fisip-Adm.Publik 2010)
– Hanan Nurul Aini (Fisip-Adm.Publik 2010)
– Rendy ‘Mpok’ Rachma F (FIB-Sastra Rusia 2009)
– Deni ‘Culen’ Sofyan (Fikom- Informasi dan Perpustakaan 2009)
– Yahya ‘Yayoi’ Hafidhuddin (FIB-Sastra Jepang 2010)
– Farhan Azwin Maulana (FMIPA-Kimia 2010)

Bawah (dari sisi kanan):
– Brian Brilianda (FEB-Manajemen 2009)
– Abdul ‘Iko’ Rochman Hadiyono (Faperta-Agroteknologi 2010)
– Ujang Yayat Abdurahman (Faperta-Agroteknologi 2010)
– Arviandra ‘Andra’ Rizki Yoputro (Faperta-Agroteknologi 2010)
– Ahmad Dzaky Mualim (FMIPA-Kimia 2010)
– Rendi ‘Bolu’ Anugrah Hudry (Fisip-Adm.Publik 2010)
– Hamzah ‘Abang’ SB (FIB-Sastra Arab 2009)
– Dede ‘Abah’ Mudopar (FIB-Sastra Sunda 2010) sbg Kordes
Dan ada satu lagi sebenarnya, Nia Kurnia (FIB-Sastra Sunda 2010), tetapi cuma bisa ikut 3 hari pertama saja krn ada satu dan hal lainnya.

Miss you guys 🙂

Sebuah Perjalanan Humasers

image

(Divisi Humas Lises Unpad Periode 2012)

image

(Divisi Humas Lises Unpad Periode 2013)

Empat taun yang lalu aku adalah maba (mahasiswa baru). Di awal tahun 2011, aku mendaftarkan diri ke salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Lises (Lingkung Seni Sunda) Unpad. Aku memang sudah mengincar UKM ini sejak awal karena ingin belajar lagi angklung dan gamelan.

Pada waktu pertama kalinya menginjakkan kaki di sekretariatnya untuk registrasi, aku melihat dan tertarik dengan mading yang ada di sana. Lalu, pada saat aku ngobrol ke Teh Teja (salah satu senior Lises angkatan Ragamulya), aku bilang kalo aku tertarik dengan madingnya. Teh Teja bilang, “Sok kamu masuk dulu, nanti kamu bisa masuk divisi humas.”

Belakangan barulah aku tau kalo Teh Teja adalah Koor Divisi Humas Lises yang pada saat itu diketuai oleh Kang Angga ‘Linggabuana’.

Menjelang akhir 2011, Lises berganti kepengurusan. Ada estafet kepemimpinan dari Kang Angga ‘Linggabuana’ kepada Kang Ju’i ‘Ragamulya’. Di kepengurusan itulah angkatanku (Tarusbawa) bisa masuk sebagai pengurus.

Sesuai niat dari awal, aku masuk ke Divisi Humas. Koordinatornya waktu itu adalah Kang Ohan ‘Ragamulya’. Selain aku, anggota lainnya ada Corina, Adan, Siska, dan Rizky ‘Ableh’, yang semuanya berasal dari angkatan Tarusbawa.

Sekilas, pekerjaan humas sudah dapat dibayangkan. Prokernya gak jauh dari hal-hal yang menyangkut hubungan internal dan eksternal, serta pengelolaan media informasi. Aku diserahi tanggung jawab untuk memegang proker Siloka. Siloka adalah buletin yang dimiliki Lises. Pada saat itu aku mengajukan perubahan tampilan Siloka. Dari yang asalnya cetak, menjadi e-magazine. Hal itu terinspirasi dari majalah Hima di jurusanku yang berbentuk online mengingat dunia internet sudah menjadi dunia manusia. Selain itu, kupikir itu bisa menghemat pembiayaan karena kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya cetak. Tinggal upload di issue.com lalu share di media sosial.

Ternyata hal itu tidak semudah yang kubayangkan. Aku kurang pandai dalam manajemen waktu dan orang. Siloka sering keteteran dan konten pun jauh dari ekspektasi. Maafin ya Kang Ohan 😦

Beres kepengurusan di akhir taun 2012, aku lelah. Pada saat itu aku tidak berniat untuk menjadi pengurus lagi. Lelah, karena sepanjang tahun 2012, aku ambil peran juga di organisasi lain dan cukup menyita waktu,pikiran,tenaga,uang, dan hati.

Kenyataannya, pada kolom Koordinator Divisi Humas Periode 2013 tertulis namaku. Entahlah, aku tak tau kenapa. Yang aku tau, ketua baru Lises pada saat itu adalah Corina, dan dia sama-sama berasal dari Ciamis. Lalu, dari staff Divisi Humas sebelumnya tidak ada yang meneruskan perjuangan di divisi ini. Dan hatiku luluh dan tergerak ingin membantu temanku itu.

Sebenarnya aku bukan orang yang jago dalam menjalin sebuah hubungan. Sedikit menjadi beban untuk mengelola hubungan internal dan eksternal Lises yang luas ini. Untunglah ada humasers lain yang membantu, Opha ‘Tarusbawa’, Sarah, Jul dan Faiz yang sama-sama berasal dari angkatan Jayasingawarman (angkatan di bawah Tarusbawa). Banyak ide cemerlang yang datang dari teman-teman yang kece ini. Yang terbaru adalah ide proker Lises Olympic (sebuah ajang pertandingan antar angkatan, misalnya: futsal), lalu ada juga pembuatan nomor humas agar setiap pergantian kepengurusan, stakeholder Lises masih dapat menghubungi nomor yang sama. Selain itu ada juga niat untuk membuat web Lises yang sudah lama menghilang entah kemana, pembaharuan Company Profile, mading dan Siloka. Dan satu lagi yang dititipkan oleh kepengurusan sebelumnya, Fokalismas, sebuah forum yang beranggotakan Lingkung Seni Sunda mahasiswa se-Jawa Barat yang memang pada waktu itu masih mati suri.

image

(Kunjungan SWS IT Telkom, 2013)

Foto di atas adalah salah satu job desc Divisi Humas, yaitu menjalin silaturahmi antar LSS, yang dari hubungan itu dilanjutkan untuk memulai kembali langkah Fokalismas.

Berbicara Fokalismas, inilah hal yang paling aku suka dari tugas kehumasanku. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Fokalismas memang masih mati suri. Jejaknya entah berhenti di mana. Sebuah misteri kalo aku bilang,hehe.. Teh Teja sempat bercerita bahwa pada saat kepengurusannya, sempat diadakan pagelaran Fokalismas bersama LSS lainnya yang berada di sekitar Bandung. Akan tetapi, itu hanya berhenti sampai di sana. Tidak ada langkah lagi untuk Fokalismas.

Untungnya, Corina dan Kang Jui memiliki keinginan yang sama denganku untuk menghidupkan kembali sebuah perkumpulan ini. Tetapi, tidak akan pernah terwujud jika hanya di Lises saja.

Pada awal kepengurusan Corina, ada beberapa pertemuan LSS untuk membahas Fokalismas. Kang Jui masih setia menemani kami menghadiri pertemuan-pertemuan ini. Tidak banyak yang saya hadiri, tapi yang saya ingat adalah pertemuan di Lisma Upas sekitar Mei 2013. Waktu itu hadir dedengkot-dedengkot LSS, diantaranya ada Maat dkk dari LSS ITB, Kang Ressky dkk dari Lisenda Itenas, Kang Akbar dkk dari Lisma Unpas, Kang Deri dkk dari Kabayan Polban, serta yang lainnya. Aku dan Corina hanya sekedar menjadi pendengar. Yang terbilang aktif berbicara di depan pada saat itu adalah Kang Jui, Maat dan Kang Akbar karena mereka yang sudah tau terlebih dahulu. Pertemuan itu tidak banyak menghasilkan rencana, masih stagnan.

Beruntung aku memiliki rekan sesama humas di SWS IT Telkom, yaitu Gilar. Dia adik kelasku di SMP dan SMA. Dia pun sepertinya memiliki keinginan yang sama untuk memajukan kembali Fokalismas. Menjelang akhir tahun, kita merencanakan untuk mengadakan pertemuan lagi. Pertemuan itu akhirnya terlaksana bersamaan dengan acara milangkala SWS sekitar pertengahan Desember 2013. Yang hadir pada saat itu ada Kevin dkk dari LSS ITB, Gilar dkk dari SWS IT Telkom, Kang Deri dkk dari Kabayan Polban, dan Dwi dkk dari Sadaya Unikom. Meskipun masih remang-remang,tapi inti dari pertemuan itu adalah ada dua hal yang harus dikerjakan, yaitu mengumpulkan rekan-rekan dari LSS lain yang belum bisa ikut bergabung dan mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait Fokalismas kepada alumni di masing-masing LSS. Setelah itu kita mengagendakan untuk mengadakan pertemuan di awal taun.

Alhamdulillah, dengan terseok-seok, aku berhasil menyelesaikan tanggung jawab sampai akhir. Terima kasih buat rekan-rekan humasers. Maaf untuk semua yang tidak pernah bisa aku lakukan selayaknya seorang koordinator. Ada beberapa proker yang terkendala dalam pelaksanaan, ada masalah-masalah di luar teknis yang cukup membuat aku sering curhat lebay ke Ibu Pupuhu. Banyak juga impian-impian aku di humas yang belum terwujud.

Tongkat kepemimpinan diserahkan kepada Dery ‘Jayasingawarman’, anak Ciamis juga. Humas dipercayakan kepada Jul. Aku pun sudah percaya kepadanya. Dan terbukti, beberapa proker humas yang terkendala dapat dilaksanakan dengan baik. Fokalismas, setelah mengadakan beberapa pertemuan akhirnya bisa menggelar pertunjukan Fokalismas sekitar pertengahan taun kemarin. Meskipun terbilang kecil, tapi aku pikir itu adalah pemanasan untuk perjalanan Fokalismas selanjutnya. Kalian hebat !

Taun ini, kepemimpinan di Lises kembali dipegang oleh mojang Ciamis, Riyanti ‘Dharmayawarman’. Oka ‘Dharmayawarman’ yang sebelumnya menjabat sebagai staf humas, sekarang dipercaya sebagai koornya. Hmm, dan ternyata lebih hebat parah. Milangkala Lises taun ini dibikin meriah semeriah-meriahnya, konsep Siloka meskipun belum terbit tapi sudah keliatan progresnya. Selain itu, Fokalismas akhirnya ada yang ngurus. Beberapa waktu lalu ada pertemuan sekaligus pemilihan pengurus Fokalismas yang diketuai oleh Ibnu dari LSS ITB.

Aku optimis. Optimis dengan kesuksesan proker-proker Lises, terutama humasnya, optimis dengan kebangkitan Fokalismas.

Divisi humas mungkin tidak seuriweuh divisi diklat yang ngurusin latihan sampe penerimaan anggota baru, tidak seberat divisi litbang yang pergi ke tempat-tempat tertentu untuk pendokumentasian dan pengembangan budaya Sunda, tidak sepusing divisi rumah tangga yang bertanggung jawab atas kerapihan dan maintenance sekre dan isinya, tidak seheboh divisi pementasan yang sibuk ngurus semua acara manggungnya Lises.

Ya, inilah divisi humas. Yang paling sedikit pengeluaran untuk prokernya, yang jarang melibatkan orang banyak untuk pelaksanaan prokernya. Tapi tanggung jawabnya lumayan. Bagaimana divisi-divisi yang hebat itu bisa disatukan, bagaimana semua anggota bisa betah di Lises, bagaimana alumni,rektorat,UKM kampus, LSS lainnya, serta seluruh stakeholder lain bisa tetap terjaga hubungan baiknya dengan Lises, bagaimana media informasi bisa mengeksiskan Lises ke luar sana. Bagaimana? Aku belum bisa memberi jawaban terbaik waktu itu.

Banyak harapanku untuk kemajuan humas di periode saat ini. Yakin akan kemampuan humasersnya, semoga bisa lebih baik lagi. Mungkin nanti majalah dindingnya touch screen, Siloka ada di Gramedia, info Lises sampai ke luar negeri. Who knows? 🙂

Panggil Aku …

Terkadang, orang lebih dikenal dengan nama panggilan dibanding dengan nama aslinya. Nama panggilan kebanyakan tercipta bukan oleh dirinya sendiri, tetapi karena kebiasaan orang lain memanggil dengan paggilan tertentu yang akhirnya diikuti oleh yang lainnya.

Sebagian nama panggilan masih berkaitan dengan nama aslinya. Biasanya itu terjadi lantaran nama aslinya kepanjangan atau susah disebutkan. Misalnya, kebanyakan orang yang bernama Anisa, Alisa, Delisa, Marisa, dan isa-isa lainnya akan dipanggil dengan nama panggilan Ica. Sebagian lain tercipta karena suatu kejadian, momen atau hal khusus yang hanya berkaitan dengan orang tersebut. Misalnya, pada saat kelas satu SMA aku punya teman sekelas bernama Redi. Pada saat ospek, dia salah membawa penugasan. Aku lupa persis kejadiannya seperti apa. Kalu tidak salah, dia membawa bacang (sejenis lontong yang berbentuk segitiga). Seharusnya dia membawa makanan lain. Sejak saat itu dia dipanggil dengan sebutan ‘bacang’.

Begitupun aku, yang memiliki beberapa nama panggilan.

Iik

Hanya keluarga, teman dan guru TK & SD, serta teman dan tetangga di sekitar rumah yang memanggilku ‘Iik’. Panggilan ini ada kaitannya dengan nama asliku. Pada saat aku masih bayi, uwakku sering memanggilku ‘Ika’, ‘Ik-ik’, dan akhirnya menjadi ‘Iik’ sampai sekarang. Mungkin jika sekarang ada orang yang bertanya “Apa kamu kenal dengan Rika?” kepada beberapa tetangga rumahku, yang ditanya akan menggelengkan kepala karena yang mereka kenal adalah ‘Iik’, bukan ‘Rika’.

 

Mamieh

Hanya tiga orang teman SD yang satu SMP denganku. Itu artinya aku dipanggil normal, karena yang lainnya tidak tahu nama panggilanku. Sampai pada suatu ketika, pada saat mengerjakan tugas kelompok Biologi (waktu itu baru beberapa bulan menjadi siswi SMP), aku sekelompok dengan Heldiya, Indri, dan Titi. Entah bagaimana awalnya, kita membicarakan tahun kelahiran masing-masing. Dari semuanya, ternyata hanya aku yang kelahiran 1991. Kebanyakan teman SMP ku memang kelahiran 1992, sedangkan waktu SD sebaliknya. Akhirnya mereka memanggilku mamieh karena aku yang paling tua,hmm.. Lama-kelamaan, semua teman sekelasku, teman di kelas lain, sampai beberapa guru yang paling dekat pun memanggilku ‘Mamieh’.

Tidak hanya berhenti di SMP. Aku melanjutkan studiku ke SMAN 1 Ciamis yang notabene menjadi SMA yang banyak dipilih oleh lulusan dari sekolahku. Di semua kelas sudah dapat dipastikan ada sebagian yang berasal dari sekolahku. Dengan demikian, panggilan ‘Mamieh’ masih tetap berlaku, dan dengan otomatis, teman-temanku yang sebelumnya tidak satu SMP denganku ikut memanggilku ‘Mamieh’. Bahkan ada salah satu adik kelas yang satu OSIS denganku yang memanggilku ‘Teh Mamieh’.

 

Teh Rika, Bu Rika, Burik

Aku tidak punya nama panggilan lain ketika memasuki kuliah. Beberapa teman SMP dan SMA yang satu kampus denganku saja yang memanggilku ‘Mamieh’. Menjelang pertengahan masa kuliahan, aku ikut Hima di jurusanku. Mungkin berasa pejabat, sebagian suka memanggil dengan sebutan Pak atau Bu. Aku juga terkadang dipanggil ‘Bu Rika’ oleh beberapa teman seangkatanku. Beberapa lainnya (terutama yang usianya 1-2 tahun di bawahku) memanggilku ‘Teh Rika’.

Yang paling ekstrim adalah ‘Burik’. Nama panggilan ini sebenarnya berasal dari kata ‘Bu Rika’ yang kemudian dipersingkat. Tidak ada hubungannya dengan yang lain. Akan tetapi, jika dilihat dari pengertiannya, kata Burik ini memiliki pengertian yang tidak mengenakkan. Menurut KBBI, pengertian burik adalah: 1. Bopeng; 2. Berbintik-bintik putih (pada bulu ayam); kurik. Jadi, aku seperti orang yang berpenyakitan. Dan sepertinya mereka senang memanggilku seperti itu. Hmm..

 

Kaka, Kakak

Ini adalah nama panggilan terkeren. Dulu aku penggemar Ricardo Kaka (salah satu pemain bola asal Brazil yang jago main bola dan super ganteng). Mengingat nama ku juga berakhiran –ka, ingin juga rasanya dipanggil Kaka, akan tetapi aku tidak mungkin meminta semua orang memanggilku Kaka. Untungnya ada dua orang teman, hanya dua orang, yang mau memanggilku ‘Kaka’. Yang pertama adalah ‘Abah’ Mudofar, Kordes (Koordinator Desa) KKN sekaligus pacar teman dekatku. Kedua, Eris ‘Tetom’, teman SMA yang sekarang jadi teman di dunia maya. Aku terharu,hehe..

Namaku Rika. Panggil aku apa saja, selagi itu manusiawi dan kamu tetap berada dalam lingkaranku 😉