Dunia Tanpa ‘Galau’

image

(Aku, sebelum pergi karnaval)

Hampir semua tulisan cebelumnya kuceritakan dengan sentuhan kata-kata sendu. Rasanya, masa muda menjelang dewasa, adalah masa ketika setiap orang pernah merasa galau.
Galau itu sejenis apa ya? Ya begitu. Menurutku, itu kondisi di mana kita menghadapi suatu masalah, tetapi kita belum tau solusinya. Kalaupun tahu, kita belum bisa melakukannya, atau bingung karena terlalu banyak alternatif jalan keluar. Galau karena belum lulus, galau karena belum kerja, galau karena jomblo, galau karena diputusin pacar, galau milih jurusan atau kampus, dan masih banyak galau-galau lainnya.

Ada masa di mana selain belum mengenal kata ‘galau’, kita juga belum merasakan galau (mungkin dulu namanya masih ‘bimbang’, ‘resah’). Masa itu adalah masa kanak-kanak.

Aku melewati masa itu di tahun 90-an. Berbahagialah anak-anak angkatan 90-an, di mana dulu kita hanya terkontaminasi oleh televisi saja karena pada masa itu belum ada gadget dan mainan-mainan yang malah merusak dunia kita. Pantaslah pada saat itu aku belum tahu cinta itu apa, pacar itu makanan apa. Berbeda dengan anak sekarang yang rasanya sudah jauh lebih dewasa (bukan pemikirannya, tapi kelakuannya) dari usianya. Miris.

Aku memulai dunia kanak-kanakku ketika aku diterima di TK PGRI Tunas Harapan tahun 1996. Rasanya senang sekali, aku bisa bertemu dengan teman-teman yang banyak, bermain dan belajar bersama mereka.

Aku ingin mengingat lagi nama teman-temanku semasa TK, tapi aku hampir lupa. Yang aku ingat cuma teman-teman yang rumahnya dekat dengan rumahku dan teman-teman yang satu SD atau masih sebelahan SD nya. Hmm, ada Imey, Gaga, Ati, Asri, Sari, Teh Fani, Ira, Eli, Neta, Dudi, Fikri, Kiki, Adititan, Adri, Dadan, Indra. Ahhhh, lupa lagi. Dari sekian nama itu ada yang jadi seangkatan, ada juga yang jadi kakak kelas karena lebih dulu keluar dari TK.

Yang jelas pada saat itu aku adalah anak yang paling mungil fisiknya. Sering dimanja guru karena melihat fisikku. Misalnya, waktu ada acara botram (makan bersama) di luar sekolah. Kita berjalan cukup jauh. Pulangnya, cuma aku yang digendong karena ibu gurunya kasihan melihatku, padahal sebenarnya aku masih kuat. Mungkin susu mempengaruhi pertumbuhanku. Aku kurang begitu suka susu. Sedangkan di TK, setiap seminggu dua kali selalu ada pembagian susu. You know what did I do? Aku membuang susunya ke WC atau halaman sekolah,hehehe..

Musuhku waktu itu Adri dkk. Dia sering meledekku dengan panggilan sireum (semut). Karena dia badannya segede gaban, kupanggil aja dengan panggilan gajah. Jadilah itu perang antara semut dan gajah. Pada saat SMP dan SMA, kita satu sekolahan lagi. Rasanya malu kalau ketemu, inget jaman bocah.

image

(Aku keempat dari kanan, terlihat paling kecil)

Ada lagi yang paling aku ingat. Bukan musuh, tapi entahlah. Mungkin semacam rival. Dia adalah Neta. Sebenarnya aku lebih sering main dengan Imey karena kita tetanggaan. Tapi untuk kegiatan di TK, sepertinya aku lebih sering bersama Neta. Mamahku dengan mamahnya berteman. Tapi mamahnya Neta selalu ingin anaknya yang jadi terbaik. Akhirnya, persaingan terjadi. Aku dan Neta sama-sama aktif. Beberapa kali juga aku pernah tampil menari bersamanya.

Sampai mau masuk SD, mamahnya Neta tidak mau anaknya saingan denganku. Mungkin aku diprediksi bakal jadi rival terberat, mungkin. Akhirnya aku memilih masuk SDN 1 Handapherang, sedangkan Neta ke SDN 2 Handapherang. Meskipun sudah berada di sekolah berbeda, persaingan belum usai. Aku dan dia sama-sama bersaing buat bisa jadi juara kelas. Ya, kita memang sama-sama jadi juara kelas. Dan saking tidak ingin tersaingi, setiap selesai pembagian rapor, mamahnya dia selalu datang ke rumahku hanya untuk membandingkan jumlah nilai yang paling besar saat meraih predikat yang sama. Aku dan Neta bertemu ketika masuk SMA yang sama. Sudah usai persaingan kita. Kita telah memilih jalan yang berbeda yang tidak mungkin bisa dibandingkan satu sama lain.

Meskipun terbilang aktif semasa TK, tapi aku cukup galak ketika marah. Sejak kecil sampai TK, aku senang menggigit orang-orang yang cukup dekat, seperti saudara dan tetangga dekat, ketika mereka membuat aku kesal. Sampai-sampai, mamahnya Ati lebih dulu memasukkan anaknya ke SD saking takut digalakin oleh diriku yang sebenarnya punya tampang imut-imut jauh dari kata galak. Akhirnya Ati jadi kakak kelasku. Perlu diketahui, maksimal ada di TK itu 2 tahun, kelas A dan kelas B. Mereka yang akhirnya menjadi kakak kelasku, mengambil satu tahun di kelas A saja. Aku sebenarnya mau seperti itu karena sudah dirasakan mampu untuk naik ke grade SD. Tapi mungkin mamahku ingin aku puas bermain dulu sebelum nanti belajar maksimal di SD.

Ahh, rasanya menyenangkan jadi anak TK. Tanpa beban, jauh dari galau. Meskipun lelah bermain, berlari-lari, tapi tetap menyenangkan. Meskipun saling meledek dengan teman, tapi tidak ada rasa benci atau dendam. Mungkin orang (hampir) dewasa sepertiku harus belajar dari anak TK. Bagaimana membuat hari-hari yang mungkin melelahkan atau menyebalkan, tetap terasa menyenangkan.

#nulisrandom2015

Meskipun sedikit galak, tapi fisik aku saat itu lemah. Aku sering tidak masuk karena sakit, meskipun sakitnya ringan, sebatas demam biasa. Sakit yang paling nyesek itu ketika aku tidak bisa ikut menonton pertunjukan atraksi lumba-lumba karena sakit dan tidak boleh masuk sekolah. Sedih banget karena itu pertama kalinya aku menonton atraksi lumba-lumba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s