You are My Everything

Terkadang aku berpikir, adakah perasaan yang abadi? Begitu mudahnya orang mengatakan ‘I love you’, lalu di waktu yang lain mengatakan, ‘aku tak bisa bersamamu lagi’. Hingga aku selalu takut jika ada seseorang memberikan ‘hello’, karena di waktu yang lain dia akan meninggalkan ‘good bye’ secara tak terduga.

Lalu aku teringat dua orang yang menjadi alasan dan tujuanku berjalan sejauh ini, kedua malaikat tak bersayapku. Aku dan mereka tak pernah mengatakan ‘I love you’ satu sama lain, tapi tak pernah ada niat dan alasan untuk saling meninggalkan kecuali karena memang kehendak-Nya untuk menjemput salah satu di antara kita.

Aku bukan berasal dari keluarga yang berada seperti kebanyakan dari mereka. Tapi aku sangat bahagia memiliki mereka.

Apa (panggilan sayang buat ayah).
Sewaktu kecil, aku lebih dekat dengannya daripada mamah. Nasi goreng buatannya lebih enak dibanding buatan mamah (tapi masakan lainnya tetap membuat mamah juara), setiap malam dia selalu mendongeng, bercerita dengan media boneka yang kumiliki (semua boneka diberi nama olehnya), dia juga selalu mengerjakan PR menggambarku karena dia jago menggambar sedangkan aku anti menggambar tapi ingin selalu dapat nilai bagus (dan selalu sukses dapat nilai 90 berkat hasil karyanya,hehe). Dan banyak lagi kenangan manis di masa kecilku bersamanya.

Aku mulai tidak begitu dekat ketika aku mulai tumbuh besar dan mulai tak tertarik dengan dongeng dan bermain khas anak dan ayah. Aku lebih suka bermain dengan teman-temanku di luar. Sampai saat ini, aku tidak begitu dekat dengan apa.

Mamah. Mamah. Mamah.
Menjelang dewasa, mamah lah yang menjadi lebih dekat denganku. Dia lebih bawel sekaligus perhatian. Tidak, bawel pun salah satu bentuk perhatiannya. Aku sering berdebat dan kesal dengannya karena kita terkadang beda pemikiran. Meskipun pada akhirnya aku yang menurutinya karena aku masih memegang prinsip ‘anak harus taat kepada kedua orang tuanya selagi masih di jalan yang benar’.

Mungkin karena kita sama-sama wanita, dia lebih tahu apa yang dibutuhkan, yg dirasakan anak gadisnya. Ketika uang saku tinggal recehan di perantauan dan tidak berani minta, pasti ada SMS atau telpon dari mamah yang isinya ‘artos aya keneh teu teh?’ (‘uangnya masih ada gak, Kak?’). Ketika dompetku sudah jelek tapi terlalu sayang ngeluarin uang buat beli dompet baru, lalu aku pulang ke rumah, sudah ada dompet baru di kamar. Padahal aku gak pernah cerita ingin membeli dompet baru. Dan masih banyak bentuk perhatian dia kepadaku.

Mamah yang selalu menasihatiku agar menjadi wanita yang tangguh, mandiri, cerdas, tapi lembut. Mamah bercerita kepadaku, katanya beberapa tetangga menyangka kalau aku disekolahkan ke sekolah favorit hanya karena gengsi padahal kemampuan ekonomi keluargaku pas-pasan. Lalu mamah mengatakan kepadaku bahwa dia menyekolahkan aku ke sekolah favorit sama sekali bukan mengejar gengsi. Dia hanya ingin agar aku bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih dariku dan terpacu untuk bisa menjadi lebih baik dari mereka. Lebih baik mendapat rangking 10 di antara orang-orang yang lebih pintar dari kita daripada menjadi rangking 1 di antara orang-orang yang biasa saja, begitu katanya.

Sewaktu kecil, aku menjadi anak tunggal dan memang dimanja karena pada saat itu apa belum berhenti bekerja sehingga kondisi ekonomi keluargaku masih aman. Sampai akhirnya ketika aku berusia 4 tahun, apa berhenti bekerja, dan kita pindah dari Bandung ke Ciamis. Setelah sempat berpindah-pindah pekerjaan, akhirnya dengan modal skill memasak, apa dan mamah membuat usaha makanan sendiri, kecil-kecilan, sampai sekarang. Tidak menghasilkan banyak sampai bisa seperti yang lain, tapi cukup, karena aku pun bahkan bisa (hampir) menjadi sarjana dari salah satu kampus favorit. Hal yang tak pernah dibayangkan oleh keluarga kecil seperti keluargaku. ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’. Alhamdulillah.

Entah apalagi yang harus kuceritakan. Aku yakin, setiap anak pasti merasakan kasih sayang tak terbatas dari kedua orang tuanya. Aku memang bukan orang yang bisa menunjukkan perasaan sayang secara langsung. Tapi sungguh, apa yang aku perjuangkan hingga detik ini sampai nanti, hanya untuk membahagiakan dan memuliakan mereka.

Now I know that my favorite hello and the hardest good bye are my father and mother. I don’t know who is the third person. Maybe it’s you. Ah, I never know. Only God know who will be the best person for me. I only hope, and wait.

Aku memang tidak bisa mengatakan ‘I love you’, tapi aku selalu mencintai kalian seperti aku mencintai surga. Thanks for being my best parents 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s