Terima Kasih

Aku ingin melupakanmu.

Kuulangi lagi dan lagi kalimat itu. Aku yakin, hampir semua orang yang mengalami patah hati, terutama yang ditinggalkan, akan mengatakan ini, minimal terbersit dalam hati. Seperti aku.

Genap setahun yang lalu, aku ditinggalkan, untuk pertama kalinya ditinggalkan orang yang sudah sangat dipercaya. Alasannya terlalu klise. Hanya karena begitu banyak perbedaan dalam pemikiran. Rasanya sakit,kecewa. Janji berwujud kata-kata yang manis, hal-hal sederhana tapi romantis, perjuangan yang tampak hebat di mataku, berakhir begitu saja.

Rocket rockers bilang, “ku ingin hilang ingatan”. Bahasa lain dari kalimat, “aku ingin melupakanmu. Logikaku berusaha menguasai perasaanku, agar tak larut dalam rasa sakit.

Hal pertama yang kutanamkan dalam hatiku adalah, ‘Perasaan adalah sebuah energi, tak bisa diciptakan dan dimusnahkan begitu saja. Layaknya energi lain, perasaan hanya bisa berubah wujud’. Yang tadinya perasaan ‘sayang banget’, kini kuatur frekuensinya agar bisa seperti dulu sewaktu hanya menjadi teman.

Istilahnya move on. Aku menyadari, seberapa ingin aku melupakan, tidak akan bisa. Yang kita bisa hanyalah mengubah perasaan itu. Ada tiga faktor yang menurutku berpengaruh. Waktu, jarak, dan kesibukan. Sebenarnya  ada satu lagi, yaitu pengganti. Tapi akan sangat sulit menemukan pengganti yang menurut kita pas.

Lalu aku pun menyadari, bahwa yang membuat kita gagal move on sebenarnya adalah kebiasaan. Kebiasaan ada yang telepon, wassap, manggil sayang, nanya kabar, ngasih perhatian, makan bareng, maen bareng, bantuin tugas, becanda gak jelas dll. Wajar jika mengubah kebiasaan itu terasa sulit. Aku menikmatinya dengan tambahan kesibukan lain.

Aku percaya, ditinggalkan atau meninggalkan, hanyalah bagian dari proses menemukan, yang lebih baik dan lebih tepat.

Aku tak bisa melupakanmu, apalagi membencimu. Tapi, dengan waktu yang cukup, jarak yang tak lagi dekat, kesibukan lain, ditambah kehadiran orang-orang yang selalu ada dan menceriakan hari-hariku telah cukup mengubah wujud perasaan ini.

Rasanya aku ingin mengucapkan, ‘terima kasih telah meninggalkanku’. Dengan demikian, aku bisa belajar memperbaiki diri, menyadari bahwa masih banyak orang di sekitarku yang selalu menyayangiku, dan menemukan sepotong hati yang baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s