Belajar Sabar

image

(Bersungguh-sungguh dan sabar)

Sepertinya dua kata kunci itu yang harus selalu diingat oleh mahasiswa yang sedang in relationship with sk*ipsi. Setidaknya, itulah yang kualami 1,5 tahun ini. Sampai akhirnya, kudengar kabar tanggal sidangku. Belum selesai sih, tp setidaknya, tinggal satu tarikan napas, dan semua akan selesai.

Ngapain aja 1,5 tahun? Bersungguh-sungguh rajin bimbingan, bersungguh-sungguh ke tempat penelitian di luar kota sampai berganti-ganti daerah, sabar dengan perlakuan orang di tempat penelitian yang terkadang tidak terlihat kooperatif, sabar nunggu dosen berjam-jam buat bimbingan yang hanya 10 menit. Bersungguh-sungguh menyayangi seseorang, sabar ketika ditinggalkan. Ehh..

Oke. Maksudnya, begini. Dulu aku berpikir cukup mudah mengerjakan skripsi. Yang penting bisa menganalisa. Ternyata, ada faktor x yang bisa menjadi peluang sekaligus ancaman. Usaha keras, rajin, dan bersungguh-sungguh, harus berhati-hati bertemu dengan si ‘malas’. Kesabaran jangan sampai bertemu dengan emosi yang tinggi dan ego yang tidak terkendali.

Akhirnya, aku belajar kedua hal tersebut selama proses skripsi ini. Bukan hanya sekedar ingin segera lulus, tetapi kedua kata itu telah memberitahuku bagaimana seharusnya kita menjalani setiap ujian dalam hidup ini.

Buat yang sedang atau akan memulai skripsi, ingatlah bahwa  Allah SWT memang menakdirkan sesuatu dengan sangat mudah, kun fa yakun. Tetapi, sebelumnya kita harus berusaha keras dulu. Man jadda wa jada. Dan selama proses tersebut, kita harus selalu bersabar karena man shabara zhafira.

#nulisrandom2015

Enam Tahun Segala Rasa

image

(Sekolahku di masa sekarang)

Enam tahun aku habiskan waktu belajarku di sini, SDN 1 Handapherang. Aku masuk tahun 1998, ketika pergantian masa dari orde baru ke masa reformasi. Sekolahku ini tidak begitu jauh dari rumah. Biasanya aku pergi dan pulang dengan jalan kaki. Hanya ketika sedang manja saja aku naik angkot atau ojeg.

Kebanyakan dari teman sekelasku adalah teman di TK yang sama. Pada saat pertama masuk, jumlah muridnya adalah 40. Selama 6 tahun itu ada anak yang datang, ada juga yang pindah. Sampai di akhir, yang tersisa adalah 32 orang. Let me remember them (mungkin ada yang  terlewat, dan gak semua nama hafal dengan nama panjangnya)

Ade Hilmi | Adi | Aditia Nugraha | Apip Apriani | Arif (alm) | Deni | Dian Ismi Widianti | Dudi | Eva Putrida | Feri | Fiqri Rohman | Gilang Ramadhan | Imas Masnunah | Luki Fatmawati | Martina  Fauziah Natsr (Teh Fani) | Nunung | Rahmat | Rani | Rangga Yudistira (Gaga) | Reni | Reza Ayu Andety (Imey) | Resni Isnaeni | Saeful Yunus | Sari Apsari Suwarna | Sri Mulyati | Suhendar | Taryo Hari Kurnianto | Thessa Meisyamdiresta | Yeyet Sri Wahyuni | Yoga Visi Fauzi | Rahadian Aditresna

Karena terlalu lama, jadi terlalu banyak kisah di sini. Seperti, kisah pertemanan aku dengan Imey dan Teh Fani yang sangat dekat, tapi begitu naik ke kelas 4 menjadi berubah, Teh Fani bersama keempat teman lain yang secara fisik paling tinggi dan lebih gaul, membentuk grup sendiri, kemana-mana mereka memakai pernak-pernik yang sama, bermain bersama. Meskipun tidak terlalu eksklusif juga karena aku dan Imey sesekali bergabung bersama mereka. Misal, pada saat lomba voli, kita satu tim melawan SD lain (aku juga bisa main voli). Lalu, ketika lomba pramuka, kita bersama-sama satu grup mewakili sekolah.

Selain kisah pertemanan, masa-masa SD juga mulai diwarnai oleh cinta monyet. Anak cowok yang jadi rebutan itu Adit. Bukan hanya di sekolahku, di sekolah sebelah pun rasanya banyak yang menyukainya. Aku juga sepertinya pernah suka deh,hehe.. Adit emang paling ganteng dan berasal dari keluarga high class. Asiknya, dia gak pernah sombong. Mungkin karena mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah, jadi dia ikut bergabung dengan mayoritas.

Pernah ketika kelas 1, dia kehilangan uang 20 ribu. Semua heboh. Bayangkan, waktu itu, uang 20 ribu terbilang besar nominalnya. Semua murid dan guru, heboh mencari sampai ke kebun belakang sekolah. Tapi dia sepertinya selalu kalem. Ketika kelas 5, kita pernah ada pelajaran memasak per kelompok menurut barisan tempat duduk. Kebetulan tempat duduk dia ada di depanku. Senang? Iya, karena sesuai harapanku, semua bahan-bahan masakan yang terbilang wah, ditanggung sama dia. Waktu itu kita memasak sop pake sosis, ayam goreng, plus buah-buahan yang macem-macem. Teruuus, anak-anak cewek lain pada iri sama kita yang sekelompok sama Adit. Saking keselnya, aku sampai gak makan itu masakan (padahal gak ada hubungannya sama sekali).

Akhirnya anak cowok terganteng itu pindah ke Cijulang ketika naik ke kelas 6. Aku satu sekolah lagi du SMP dan SMA tapi beda kelas. Daaan tidak seakrab dulu. Mungkin dia udah punya lingkungan dan teman-teman yang sepadan dengan levelnya. Tapi sepertinya dia selalu baik. Mungkin karena beda kelas saja jadinya berasa jauh.

Dengan teman-teman lainnya aku tidak terlalu bermasalah. Penyakit menggigitku sudah sembuh. Hanya saja pernah beberapa kali aku marah besar. Ketika Arip (Alm) meledekku (lupa meledek apa), aku sangat marah. Kulempar tas nya sekuat tenaga sampai sobek sedikit karena trnyata di dalam tas nya ada penggaris besi, sehingga ujungnya yang tajam membuat sobek di bagian sudut tas. Ada lagi Gilang, dia tak sengaja menginjak tali sepatuku sampai kedua lututku terluka cukup besar ketika sedang lari di pelajaran olah raga. Aku tak berhenti memarahinya, padahal kalau dipikir, itu salahku yang kurang hati-hati. Yang terakhir, namanya Asep. Dia tak sengaja memegang buku ku setelah selesai main bola. Keringat campur debu yang menempel di telapak tangannya hinggap di buku ku sehingga meninggalkan jejak telapak tangan. Aku marah besar. Selain itu, aku cukup manis kok,hehe..

Sikapku cukup manis sampai guru-guru di sekolah menyayangiku. Terlebih, karena aku sang juara kelas. Ya, mulai SD, aku ditekankan oleh mamahku untuk rajin belajar dan harus bisa menjadi juara kelas. Dari sanalah aku mulai berorientasi pada nilai.

Sejak kelas 1 sampai kelas 5, aku selalu menjadi yang pertama. Sampai akhirnya, ada anak baru, pindahan dari Kawali bernama Rahadian, yang menggeserku. Selama kelas 6, aku harus rela diduakan, eh maksudnya menjadi yang kedua. Dia memang pintar, apalagi Matematika, di mana aku memang payah dalam urusan menghitung. Sejak SD, aku memang kurang suka dengan hitungan. Aku lebih bersemangat di pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia (spesialis mengarang). Gak heran sih, dia bisa menggeserku. Dia kemudian menjadi rivalku. Bahkan kita sering saling meledek di luar pelajaran. Sangat menyebalkan. Sempat waktu itu ada Lomba Siswa Berprestasi. Aku dan dia mewakili sekolahku di tingkat Kecamatan. Memang, kita sama-sama belum beruntung menjadi yang pertama, tapi aku cukup kesal. Dia bisa ada di urutan 4, sedangkan aku harus puas di urutan 6.

Di SMP dan SMA, kita satu sekolah lagi tapi beda kelas. Kita jarang saling sapa. Entah masih berasa musuh atau canggung karena malu kalau ingat kelakuan bocah. Tapi sekarang, medsos cukup membantu. Aku mulai berkomunikasi lagi dengan baik via BBM.

Yah, menyenangkannya selama 6 tahun, bersama teman-teman yang aneh-aneh tingkah lakunya. Rasanya bukan hanya aku yang mengalami bikin coretan di meja pake tipe x dengan tulisan A โค B, saling meledek nama orang tua, nangis gak jelas di meja sambil kepala nunduk ke meja lalu teman yang lainnya pada nanya “ku abi?” “ku abi nya?”, nulis pake kapur di papan tulis, buang sampah plastik ke kolong meja. Ahh, it’s unforgettable moment. And I miss all of them ๐Ÿ™‚

#nulisrandom2015

Dunia Tanpa ‘Galau’

image

(Aku, sebelum pergi karnaval)

Hampir semua tulisan cebelumnya kuceritakan dengan sentuhan kata-kata sendu. Rasanya, masa muda menjelang dewasa, adalah masa ketika setiap orang pernah merasa galau.
Galau itu sejenis apa ya? Ya begitu. Menurutku, itu kondisi di mana kita menghadapi suatu masalah, tetapi kita belum tau solusinya. Kalaupun tahu, kita belum bisa melakukannya, atau bingung karena terlalu banyak alternatif jalan keluar. Galau karena belum lulus, galau karena belum kerja, galau karena jomblo, galau karena diputusin pacar, galau milih jurusan atau kampus, dan masih banyak galau-galau lainnya.

Ada masa di mana selain belum mengenal kata ‘galau’, kita juga belum merasakan galau (mungkin dulu namanya masih ‘bimbang’, ‘resah’). Masa itu adalah masa kanak-kanak.

Aku melewati masa itu di tahun 90-an. Berbahagialah anak-anak angkatan 90-an, di mana dulu kita hanya terkontaminasi oleh televisi saja karena pada masa itu belum ada gadget dan mainan-mainan yang malah merusak dunia kita. Pantaslah pada saat itu aku belum tahu cinta itu apa, pacar itu makanan apa. Berbeda dengan anak sekarang yang rasanya sudah jauh lebih dewasa (bukan pemikirannya, tapi kelakuannya) dari usianya. Miris.

Aku memulai dunia kanak-kanakku ketika aku diterima di TK PGRI Tunas Harapan tahun 1996. Rasanya senang sekali, aku bisa bertemu dengan teman-teman yang banyak, bermain dan belajar bersama mereka.

Aku ingin mengingat lagi nama teman-temanku semasa TK, tapi aku hampir lupa. Yang aku ingat cuma teman-teman yang rumahnya dekat dengan rumahku dan teman-teman yang satu SD atau masih sebelahan SD nya. Hmm, ada Imey, Gaga, Ati, Asri, Sari, Teh Fani, Ira, Eli, Neta, Dudi, Fikri, Kiki, Adititan, Adri, Dadan, Indra. Ahhhh, lupa lagi. Dari sekian nama itu ada yang jadi seangkatan, ada juga yang jadi kakak kelas karena lebih dulu keluar dari TK.

Yang jelas pada saat itu aku adalah anak yang paling mungil fisiknya. Sering dimanja guru karena melihat fisikku. Misalnya, waktu ada acara botram (makan bersama) di luar sekolah. Kita berjalan cukup jauh. Pulangnya, cuma aku yang digendong karena ibu gurunya kasihan melihatku, padahal sebenarnya aku masih kuat. Mungkin susu mempengaruhi pertumbuhanku. Aku kurang begitu suka susu. Sedangkan di TK, setiap seminggu dua kali selalu ada pembagian susu. You know what did I do? Aku membuang susunya ke WC atau halaman sekolah,hehehe..

Musuhku waktu itu Adri dkk. Dia sering meledekku dengan panggilan sireum (semut). Karena dia badannya segede gaban, kupanggil aja dengan panggilan gajah. Jadilah itu perang antara semut dan gajah. Pada saat SMP dan SMA, kita satu sekolahan lagi. Rasanya malu kalau ketemu, inget jaman bocah.

image

(Aku keempat dari kanan, terlihat paling kecil)

Ada lagi yang paling aku ingat. Bukan musuh, tapi entahlah. Mungkin semacam rival. Dia adalah Neta. Sebenarnya aku lebih sering main dengan Imey karena kita tetanggaan. Tapi untuk kegiatan di TK, sepertinya aku lebih sering bersama Neta. Mamahku dengan mamahnya berteman. Tapi mamahnya Neta selalu ingin anaknya yang jadi terbaik. Akhirnya, persaingan terjadi. Aku dan Neta sama-sama aktif. Beberapa kali juga aku pernah tampil menari bersamanya.

Sampai mau masuk SD, mamahnya Neta tidak mau anaknya saingan denganku. Mungkin aku diprediksi bakal jadi rival terberat, mungkin. Akhirnya aku memilih masuk SDN 1 Handapherang, sedangkan Neta ke SDN 2 Handapherang. Meskipun sudah berada di sekolah berbeda, persaingan belum usai. Aku dan dia sama-sama bersaing buat bisa jadi juara kelas. Ya, kita memang sama-sama jadi juara kelas. Dan saking tidak ingin tersaingi, setiap selesai pembagian rapor, mamahnya dia selalu datang ke rumahku hanya untuk membandingkan jumlah nilai yang paling besar saat meraih predikat yang sama. Aku dan Neta bertemu ketika masuk SMA yang sama. Sudah usai persaingan kita. Kita telah memilih jalan yang berbeda yang tidak mungkin bisa dibandingkan satu sama lain.

Meskipun terbilang aktif semasa TK, tapi aku cukup galak ketika marah. Sejak kecil sampai TK, aku senang menggigit orang-orang yang cukup dekat, seperti saudara dan tetangga dekat, ketika mereka membuat aku kesal. Sampai-sampai, mamahnya Ati lebih dulu memasukkan anaknya ke SD saking takut digalakin oleh diriku yang sebenarnya punya tampang imut-imut jauh dari kata galak. Akhirnya Ati jadi kakak kelasku. Perlu diketahui, maksimal ada di TK itu 2 tahun, kelas A dan kelas B. Mereka yang akhirnya menjadi kakak kelasku, mengambil satu tahun di kelas A saja. Aku sebenarnya mau seperti itu karena sudah dirasakan mampu untuk naik ke grade SD. Tapi mungkin mamahku ingin aku puas bermain dulu sebelum nanti belajar maksimal di SD.

Ahh, rasanya menyenangkan jadi anak TK. Tanpa beban, jauh dari galau. Meskipun lelah bermain, berlari-lari, tapi tetap menyenangkan. Meskipun saling meledek dengan teman, tapi tidak ada rasa benci atau dendam. Mungkin orang (hampir) dewasa sepertiku harus belajar dari anak TK. Bagaimana membuat hari-hari yang mungkin melelahkan atau menyebalkan, tetap terasa menyenangkan.

#nulisrandom2015

Meskipun sedikit galak, tapi fisik aku saat itu lemah. Aku sering tidak masuk karena sakit, meskipun sakitnya ringan, sebatas demam biasa. Sakit yang paling nyesek itu ketika aku tidak bisa ikut menonton pertunjukan atraksi lumba-lumba karena sakit dan tidak boleh masuk sekolah. Sedih banget karena itu pertama kalinya aku menonton atraksi lumba-lumba.

Mimpi

Sebenarnya hari ini aku benar-benar kehabisan ide untuk menulis, tapi ingin belajar konsisten menulis setiap hari. Biar kelak bisa jadi seorang penulis.

Ya, penulis adalah salah satu mimpiku diantara mimpi besar lainnya. Terlalu tinggi memang mimpiku itu, mengingat aku belum pernah melahirkan karya tulisan yang ‘baik’. Tapi, bukankah kita harus mempunyai cita-cita setinggi langit?

Masalahnya, aku belum punya sayap untuk terbang. Bahkan, siapa aku pun belum bisa  ku mengerti. Mungkin, salah  satu alasan Tuhan kenapa aku tidak bisa lulus  cepat karena memang aku belum siap.

Tapi tetap saja aku bermimpi seperti itu. Ada alasan kuat kenapa aku harus jadi penulis dan melahirkan banyak karya. Aku tahu, manusia kelak kan mati. Raganya mati, tapi segala kebaikannya akan lebih baik jika tidak ikut mati. Aku berharap ketika aku sudah tidak ada, orang-orang akan terus mengenangku melalui tulisan-tulisan yang memberi kebaikan dan manfaat.

#nulisrandom2015

You are My Everything

Terkadang aku berpikir, adakah perasaan yang abadi? Begitu mudahnya orang mengatakan ‘I love you’, lalu di waktu yang lain mengatakan, ‘aku tak bisa bersamamu lagi’. Hingga aku selalu takut jika ada seseorang memberikan ‘hello’, karena di waktu yang lain dia akan meninggalkan ‘good bye’ secara tak terduga.

Lalu aku teringat dua orang yang menjadi alasan dan tujuanku berjalan sejauh ini, kedua malaikat tak bersayapku. Aku dan mereka tak pernah mengatakan ‘I love you’ satu sama lain, tapi tak pernah ada niat dan alasan untuk saling meninggalkan kecuali karena memang kehendak-Nya untuk menjemput salah satu di antara kita.

Aku bukan berasal dari keluarga yang berada seperti kebanyakan dari mereka. Tapi aku sangat bahagia memiliki mereka.

Apa (panggilan sayang buat ayah).
Sewaktu kecil, aku lebih dekat dengannya daripada mamah. Nasi goreng buatannya lebih enak dibanding buatan mamah (tapi masakan lainnya tetap membuat mamah juara), setiap malam dia selalu mendongeng, bercerita dengan media boneka yang kumiliki (semua boneka diberi nama olehnya), dia juga selalu mengerjakan PR menggambarku karena dia jago menggambar sedangkan aku anti menggambar tapi ingin selalu dapat nilai bagus (dan selalu sukses dapat nilai 90 berkat hasil karyanya,hehe). Dan banyak lagi kenangan manis di masa kecilku bersamanya.

Aku mulai tidak begitu dekat ketika aku mulai tumbuh besar dan mulai tak tertarik dengan dongeng dan bermain khas anak dan ayah. Aku lebih suka bermain dengan teman-temanku di luar. Sampai saat ini, aku tidak begitu dekat dengan apa.

Mamah. Mamah. Mamah.
Menjelang dewasa, mamah lah yang menjadi lebih dekat denganku. Dia lebih bawel sekaligus perhatian. Tidak, bawel pun salah satu bentuk perhatiannya. Aku sering berdebat dan kesal dengannya karena kita terkadang beda pemikiran. Meskipun pada akhirnya aku yang menurutinya karena aku masih memegang prinsip ‘anak harus taat kepada kedua orang tuanya selagi masih di jalan yang benar’.

Mungkin karena kita sama-sama wanita, dia lebih tahu apa yang dibutuhkan, yg dirasakan anak gadisnya. Ketika uang saku tinggal recehan di perantauan dan tidak berani minta, pasti ada SMS atau telpon dari mamah yang isinya ‘artos aya keneh teu teh?’ (‘uangnya masih ada gak, Kak?’). Ketika dompetku sudah jelek tapi terlalu sayang ngeluarin uang buat beli dompet baru, lalu aku pulang ke rumah, sudah ada dompet baru di kamar. Padahal aku gak pernah cerita ingin membeli dompet baru. Dan masih banyak bentuk perhatian dia kepadaku.

Mamah yang selalu menasihatiku agar menjadi wanita yang tangguh, mandiri, cerdas, tapi lembut. Mamah bercerita kepadaku, katanya beberapa tetangga menyangka kalau aku disekolahkan ke sekolah favorit hanya karena gengsi padahal kemampuan ekonomi keluargaku pas-pasan. Lalu mamah mengatakan kepadaku bahwa dia menyekolahkan aku ke sekolah favorit sama sekali bukan mengejar gengsi. Dia hanya ingin agar aku bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih dariku dan terpacu untuk bisa menjadi lebih baik dari mereka. Lebih baik mendapat rangking 10 di antara orang-orang yang lebih pintar dari kita daripada menjadi rangking 1 di antara orang-orang yang biasa saja, begitu katanya.

Sewaktu kecil, aku menjadi anak tunggal dan memang dimanja karena pada saat itu apa belum berhenti bekerja sehingga kondisi ekonomi keluargaku masih aman. Sampai akhirnya ketika aku berusia 4 tahun, apa berhenti bekerja, dan kita pindah dari Bandung ke Ciamis. Setelah sempat berpindah-pindah pekerjaan, akhirnya dengan modal skill memasak, apa dan mamah membuat usaha makanan sendiri, kecil-kecilan, sampai sekarang. Tidak menghasilkan banyak sampai bisa seperti yang lain, tapi cukup, karena aku pun bahkan bisa (hampir) menjadi sarjana dari salah satu kampus favorit. Hal yang tak pernah dibayangkan oleh keluarga kecil seperti keluargaku. ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’. Alhamdulillah.

Entah apalagi yang harus kuceritakan. Aku yakin, setiap anak pasti merasakan kasih sayang tak terbatas dari kedua orang tuanya. Aku memang bukan orang yang bisa menunjukkan perasaan sayang secara langsung. Tapi sungguh, apa yang aku perjuangkan hingga detik ini sampai nanti, hanya untuk membahagiakan dan memuliakan mereka.

Now I know that my favorite hello and the hardest good bye are my father and mother. I don’t know who is the third person. Maybe it’s you. Ah, I never know. Only God know who will be the best person for me. I only hope, and wait.

Aku memang tidak bisa mengatakan ‘I love you’, tapi aku selalu mencintai kalian seperti aku mencintai surga. Thanks for being my best parents ๐Ÿ™‚

Terima Kasih

Aku ingin melupakanmu.

Kuulangi lagi dan lagi kalimat itu. Aku yakin, hampir semua orang yang mengalami patah hati, terutama yang ditinggalkan, akan mengatakan ini, minimal terbersit dalam hati. Seperti aku.

Genap setahun yang lalu, aku ditinggalkan, untuk pertama kalinya ditinggalkan orang yang sudah sangat dipercaya. Alasannya terlalu klise. Hanya karena begitu banyak perbedaan dalam pemikiran. Rasanya sakit,kecewa. Janji berwujud kata-kata yang manis, hal-hal sederhana tapi romantis, perjuangan yang tampak hebat di mataku, berakhir begitu saja.

Rocket rockers bilang, “ku ingin hilang ingatan”. Bahasa lain dari kalimat, “aku ingin melupakanmu. Logikaku berusaha menguasai perasaanku, agar tak larut dalam rasa sakit.

Hal pertama yang kutanamkan dalam hatiku adalah, ‘Perasaan adalah sebuah energi, tak bisa diciptakan dan dimusnahkan begitu saja. Layaknya energi lain, perasaan hanya bisa berubah wujud’. Yang tadinya perasaan ‘sayang banget’, kini kuatur frekuensinya agar bisa seperti dulu sewaktu hanya menjadi teman.

Istilahnya move on. Aku menyadari, seberapa ingin aku melupakan, tidak akan bisa. Yang kita bisa hanyalah mengubah perasaan itu. Ada tiga faktor yang menurutku berpengaruh. Waktu, jarak, dan kesibukan. Sebenarnyaย  ada satu lagi, yaitu pengganti. Tapi akan sangat sulit menemukan pengganti yang menurut kita pas.

Lalu aku pun menyadari, bahwa yang membuat kita gagal move on sebenarnya adalah kebiasaan. Kebiasaan ada yang telepon, wassap, manggil sayang, nanya kabar, ngasih perhatian, makan bareng, maen bareng, bantuin tugas, becanda gak jelas dll. Wajar jika mengubah kebiasaan itu terasa sulit. Aku menikmatinya dengan tambahan kesibukan lain.

Aku percaya, ditinggalkan atau meninggalkan, hanyalah bagian dari proses menemukan, yang lebih baik dan lebih tepat.

Aku tak bisa melupakanmu, apalagi membencimu. Tapi, dengan waktu yang cukup, jarak yang tak lagi dekat, kesibukan lain, ditambah kehadiran orang-orang yang selalu ada dan menceriakan hari-hariku telah cukup mengubah wujud perasaan ini.

Rasanya aku ingin mengucapkan, ‘terima kasih telah meninggalkanku’. Dengan demikian, aku bisa belajar memperbaiki diri, menyadari bahwa masih banyak orang di sekitarku yang selalu menyayangiku, dan menemukan sepotong hati yang baru.