Aku Lupa, Aku Pelupa

Beberapa hari yang lalu aku panik setengah mati, ketika ditagih ongkos Damri, lalu aku buka tas dan dompetnya gak ada. Aku baru ingat kalo dompetku ketinggalan di meja. Tujuanku naik Damri waktu itu untuk bimbingan ke rumah dosen di Komplek Dago Asri. Untunglah ada beberapa anak DU dan sekitarnya untuk menjadi target sumber pinjaman uang. Miris.

Kejadian lupa ninggalin barang ini bukan yang pertama kalinya. Entah kenapa selepas SMA aku menhadi sering lupa, tapi kenapa gak pernah lupa sama mantan. ??? Oke,skip. Banyak kejadian lupa yang terjadi selama jadi anak kuliahan. Mungkin itu efek tugas,haha.. Karena aku pelupa, akan kuceritakan beberapa yang aku ingat.

Aku pernah lupa gak pake sepatu ke kampus. Kejadiannya ketika masih tingkat satu atau dua. Waktu itu memang sedang banyak kegiatan, pulang di atas jam 12 malam, bangun dan sholat Subuh kesiangan, lupa belom ngerjain tugas, ngerjain tugas buru-buru, langsung berangkat ke kampus, dan sesampainya di kelas, aku baru sadar kalo kakiku hanya beralas sendal jepit. Akhirnya aku duduk di belakang biar gak keliatan dosen, sementara teman-temanku ketawa aja liat temannya kuliah pake sendal jepit. Pada saat pergantian kelas, barulah aku pergi ke kosan untuk menukarnya dengan sepatu. Malu.

Semester-semester berikutnya aku sering ditunjuk jadi sekretaris di beberapa acara. Kemana-mana pasti bawa map yang isinya berkas-berkas acara. Waktu itu aku pernah pergi mencari, hmmm, lupa lagi apa, ke pasar Gedebage sambil menenteng map. Aku pergi ke beberapa tempat untuk survey. Pada saat keluar pasar mau pulang, aku baru ingat map ku ketinggalan entah di tempat jualan yang mana. Sudah kebayang pusingnya karena pasar itu terdiri dari banyak blok dan aku lupa di blok yang mana map nya. Akhirnya aku menemukan tempatnya setelah berkeliling-keliling cukup lama.

image

Sebelumnya pernah juga itu map yang isinya berkas-berkas, ketinggalan di bus. Waktu itu aku pulang ke Ciamis pake bus Peimajasa. Karena penuh, terpaksa aku berdiri. Map itu aku simpan di atas, tempat nyimpen barang. Akhirnya lupa. Aku baru sadar ketika sampai di rumah. Langsung saja aku menghubungi bagian pengaduan Primajasa. Yang menerima pengaduan mengatakan akan berusaha menemukan. Setiap hari aku menghubungi dan tidak ada kabar bahagia sampai akhirnya tidak ada kabar sama sekali dari pihak Primajasa. Sebenarnya map itu hanya berisi proposal-proposal dan surat-surat acara saja, masih bisa print ulang. Tapi yang membuat malas adalah tanda tangan di dalamnya. Itu berarti aku harus jadi pengemis tanda tangan lagi. Dan itu terjadi.

Masih tentang map. Setelah pensiun dari organisasi kampus, aku masih sering membawa map. Isinya sekarang draft skripsi,ekhm. Aku paling sering ketinggalan map di tempat wudhu di mushola kampus. Masih mending sadar ketika masih berada di mushola. Tapi gak jarang, aku baru sadar ketika sudah berada di jurusan. Ya, terpaksa balik lagi ke mushola.

Yang terbaru dan paling kocak adalah ketinggalan map skripsi di ruang dosen. Ceritanya, hari itu aku bimbingan sore sekali. Hanya ada aku, dosen pembimbing, dan seorang kakak tingkat yang sebimbingan. Aku banyak ngobrol, dan tanpa sadar map itu aku simpan di kursi sebelahku, lalu ketinggalan. Aku baru sadar setelah sampai di kosan. Iseng-iseng, aku membuat status di line. Status:
“Ketinggalan draft di tempat bimbingan. Sebegini inginkah aku melupakanmu?”
Komentar:
(Sekretaris jurusan) “Rika, saya tadi menemukan file nya di map pink. Saya simpan d meja panjang jurusan.”

Malu.

Yang paling sering aku lupakan itu tiga barang ini, kartu ATM, payung, dan flashdisk. Sudah tak terhitung berapa kali aku lupa ketinggalan kartu ATM di mesinnya, apalagi pinnya. Berkali-kali datang ke bank cuma buat ngurus kartu ATM. Flashdisk paling juara gak dicabut di komputer warnet atau tempat print. Bukan cuma punya sendiri, tapi punya orang. Payung juga sama, sering lupa ketinggalan di tempat print, di sekretariat Lises juga sering. Tapi yang paling sedih itu ketika ketinggalan di Damri. Itu karena payungnya gambar kucing, dan pas ingin membeli payung yang sama, sudah tidak ada di toko.

Meskipun aku sering lupa dengan barang-barang, tapi aku tidak pernah lupa kepada orang-orang yang sudah baik kepadaku. Sekecil apapun. Dan, tidak boleh lupa sama yang tidak pernah lupa dengan hamba-hamba-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s