Panggil Aku …

Terkadang, orang lebih dikenal dengan nama panggilan dibanding dengan nama aslinya. Nama panggilan kebanyakan tercipta bukan oleh dirinya sendiri, tetapi karena kebiasaan orang lain memanggil dengan paggilan tertentu yang akhirnya diikuti oleh yang lainnya.

Sebagian nama panggilan masih berkaitan dengan nama aslinya. Biasanya itu terjadi lantaran nama aslinya kepanjangan atau susah disebutkan. Misalnya, kebanyakan orang yang bernama Anisa, Alisa, Delisa, Marisa, dan isa-isa lainnya akan dipanggil dengan nama panggilan Ica. Sebagian lain tercipta karena suatu kejadian, momen atau hal khusus yang hanya berkaitan dengan orang tersebut. Misalnya, pada saat kelas satu SMA aku punya teman sekelas bernama Redi. Pada saat ospek, dia salah membawa penugasan. Aku lupa persis kejadiannya seperti apa. Kalu tidak salah, dia membawa bacang (sejenis lontong yang berbentuk segitiga). Seharusnya dia membawa makanan lain. Sejak saat itu dia dipanggil dengan sebutan ‘bacang’.

Begitupun aku, yang memiliki beberapa nama panggilan.

Iik

Hanya keluarga, teman dan guru TK & SD, serta teman dan tetangga di sekitar rumah yang memanggilku ‘Iik’. Panggilan ini ada kaitannya dengan nama asliku. Pada saat aku masih bayi, uwakku sering memanggilku ‘Ika’, ‘Ik-ik’, dan akhirnya menjadi ‘Iik’ sampai sekarang. Mungkin jika sekarang ada orang yang bertanya “Apa kamu kenal dengan Rika?” kepada beberapa tetangga rumahku, yang ditanya akan menggelengkan kepala karena yang mereka kenal adalah ‘Iik’, bukan ‘Rika’.

 

Mamieh

Hanya tiga orang teman SD yang satu SMP denganku. Itu artinya aku dipanggil normal, karena yang lainnya tidak tahu nama panggilanku. Sampai pada suatu ketika, pada saat mengerjakan tugas kelompok Biologi (waktu itu baru beberapa bulan menjadi siswi SMP), aku sekelompok dengan Heldiya, Indri, dan Titi. Entah bagaimana awalnya, kita membicarakan tahun kelahiran masing-masing. Dari semuanya, ternyata hanya aku yang kelahiran 1991. Kebanyakan teman SMP ku memang kelahiran 1992, sedangkan waktu SD sebaliknya. Akhirnya mereka memanggilku mamieh karena aku yang paling tua,hmm.. Lama-kelamaan, semua teman sekelasku, teman di kelas lain, sampai beberapa guru yang paling dekat pun memanggilku ‘Mamieh’.

Tidak hanya berhenti di SMP. Aku melanjutkan studiku ke SMAN 1 Ciamis yang notabene menjadi SMA yang banyak dipilih oleh lulusan dari sekolahku. Di semua kelas sudah dapat dipastikan ada sebagian yang berasal dari sekolahku. Dengan demikian, panggilan ‘Mamieh’ masih tetap berlaku, dan dengan otomatis, teman-temanku yang sebelumnya tidak satu SMP denganku ikut memanggilku ‘Mamieh’. Bahkan ada salah satu adik kelas yang satu OSIS denganku yang memanggilku ‘Teh Mamieh’.

 

Teh Rika, Bu Rika, Burik

Aku tidak punya nama panggilan lain ketika memasuki kuliah. Beberapa teman SMP dan SMA yang satu kampus denganku saja yang memanggilku ‘Mamieh’. Menjelang pertengahan masa kuliahan, aku ikut Hima di jurusanku. Mungkin berasa pejabat, sebagian suka memanggil dengan sebutan Pak atau Bu. Aku juga terkadang dipanggil ‘Bu Rika’ oleh beberapa teman seangkatanku. Beberapa lainnya (terutama yang usianya 1-2 tahun di bawahku) memanggilku ‘Teh Rika’.

Yang paling ekstrim adalah ‘Burik’. Nama panggilan ini sebenarnya berasal dari kata ‘Bu Rika’ yang kemudian dipersingkat. Tidak ada hubungannya dengan yang lain. Akan tetapi, jika dilihat dari pengertiannya, kata Burik ini memiliki pengertian yang tidak mengenakkan. Menurut KBBI, pengertian burik adalah: 1. Bopeng; 2. Berbintik-bintik putih (pada bulu ayam); kurik. Jadi, aku seperti orang yang berpenyakitan. Dan sepertinya mereka senang memanggilku seperti itu. Hmm..

 

Kaka, Kakak

Ini adalah nama panggilan terkeren. Dulu aku penggemar Ricardo Kaka (salah satu pemain bola asal Brazil yang jago main bola dan super ganteng). Mengingat nama ku juga berakhiran –ka, ingin juga rasanya dipanggil Kaka, akan tetapi aku tidak mungkin meminta semua orang memanggilku Kaka. Untungnya ada dua orang teman, hanya dua orang, yang mau memanggilku ‘Kaka’. Yang pertama adalah ‘Abah’ Mudofar, Kordes (Koordinator Desa) KKN sekaligus pacar teman dekatku. Kedua, Eris ‘Tetom’, teman SMA yang sekarang jadi teman di dunia maya. Aku terharu,hehe..

Namaku Rika. Panggil aku apa saja, selagi itu manusiawi dan kamu tetap berada dalam lingkaranku 😉

I’m Not Alone

Selamat siang menjelang sore Jatinangor!

Ini pertama kalinya aku menulis di sini. Seharusnya saya menulis skripsi yang sudah satu semester terakhir menghantui malakmku. Belum kelar juga tugas terakhir saya studi di Universitas ini. Sedih?jelas. Sebagian teman saya sudah lulus dan sebentar lagi wisuda. Sebagian lagi sudah setengah jalan. Aku?masih terus memulai.

Maafkan aku ma,pa. Anakmu ini tidak bermaksud untuk berlama-lama menyandang status mahasiswi. Tapi apa daya,kenyataannya aku masih belum berjalan. Malas?tidak juga, karena dari awal semester 8 aku sudah semangat mencari bahan penelitian, bolak-balik panas-panas nyasar-nyasar ke lapangan, dan selalu semangat setiap ada bimbingan dengan dosen pembimbing. Tapi mungkin memang, daya juang aku belum maksimal.

Yah, inilah aku. Satu dari sekian mahasiswa yang sedang galau di akhir masa kuliah.